5 Penyebab Keterpurukan Chelsea di Musim 2017-2018


5 Penyebab Keterpurukan Chelsea di Musim 2017-2018

 

Chelsea memulai Premier League 2017-2018 dengan kepercayaan diri tinggi karena berstatus juara bertahan. Namun, Performa The Blues justru inkonsiten sepanjang musim.

Chelsea mengawali musim dengan hasil negatif setelah takluk 2-3 dari Burnley pada pekan pertama. Hal itu membuat mereka menjadi juara bertahan pertama yang langsung kalah dan kebobolan tiga gol pada pekan pertama.

Sempat kembali ke jalur kemenangan hingga berhasil menempati peringkat ketiga pada pekan keempat, nyatannya performa Chelsea semakin tidak konsisten. Alhasil, The Blues kerap naik dan turun posisi di klasemen sementara.

Performa Alvaro Morata dan kawan-kawan muolai menurun drastis ketika memasuki pekan ke-22. Sejak saat itu, mereka baru mengoleksi dua kemenangan dari enam pertandingan.

Akan tetapi. dari jumlah pertandingan tersebut, kekalahan telak beruntun dari Bournemouth (0-3) dan Watford (1-2-4) menjadi sorotan. Bahkan, sempat terdengar kabar pemecatan manajer Antonio Conte.

Lalu, apa saja masalah yang membuat Chelsea bermain inkonsisten sepanjang musim 2017-2018? Berikut ini Bola.com merangkum lima di antaranya:

Kunci kesuksesan Chelsea menjuarai Premier League 2016-2017  adalah kebugaran para pemain intinya. Sedangkan musim ini, banyak penggawa The Blues yang menderita cedera.

Pemain Kunci Chelsea, Eden Hazard, menderita cedera parah ketika memperkuat timnas Belgia sehingga harus absen  tiga bulan.  Setelah itu pemain-pemain seperti Danny Drinkwater, Alvaro Morata, dan nGolo Kante bergantian masuk ruang perawatan.

Kondisi semakin parah ketik rekrutan Januari, Ross Barkley, masih dalam tahap pemulihan setelah bergabung dari Everton. Setelah itu, Pedro juga harus menepi karena cedera saat melawan Watford.

Musim lalu Conte membuat kejutan ketika memainkan skema tiga bek bersama Chelsea. Hal itu membuat para manajer di Inggris kesulitan menebak gaya bermain The Blues.


Akan tetapi, rupanya gaya bermain Chelsea yang tidak mengalami perubahan menjadi sasaran empuk manajer lain. Setiap tim telah menemukan cara untuk mengatasi taktik Conte.

Perubahan formasi dari 3-4-3 ke 3-4-2 juga tidak banyak membantu. Kondisi itu karena skema dasar The Blues praktis tidak mengalami perubahan berarti.

Transfer yang kurang efisian dari beberapa pembelian Chelsea pada musim bursa transfer membuat sebagian pendukungnya heran. Mereka membuat beberapa kesalahan dalam melakukan jual dan beli pemain.

Chelsea melepas Diego Costa dan Nemanja Matic pada bursan transfer musim panas 2017 Padahal, keduanya merupakan pemain kunci The Blues ketika meraih gelar juara.

Kondisi itu semakin parah setelah Alvaro Morata dan Tiemoue Bakayoko yang datang sebagai pengganti keduanya gagal memenuhi ekspektasi. Alhasil, The Blues menderita karena keputusan tersebut.

Chelsea absen di kompetisi Eropa pada musim lalu sehingga minimnya rotasi tidak menjadi masalah. Akan tetapi, situasi berbeda terjadi pada musim ini karena mereka tampil di Liga Champions.

Alhasil, Conte beberapa kali mengeluhkan tidak punya pemain pelapis dan tidak melakukan rotasi. Padahal, Chelsea punya banyak pemain muda berbakat di bangku cadangan.

Masalah semakin terlihat ketika Conte tetap memasang Bakayoko di lini tengah. Padahal, manajer asal Italia itu punya Drinkwater yang tampil lebih konsisten.

Petinggi Chelsea terlibat perselisihan dengan Conte sejak awal musim. Hal itu karena kedua belah pihak tidak sepakat soal strategi transfer.

Alhasil, The Blues kehilangan beberapa target yang diminta oleh Conte. Nama-nama seperti Radja Nainggolan, Alex Sandro, Leonardo Bonucci, dan Andrea Bonucci gagal merapat ke Stamford Bridge.

Apalagi, Conte dikabarkan murka kepada petinggi klub karena gagal mempertahankan Matic. Kabar pemecatan manajer asal Italia itu berembus kencang meski pemain menyatakan berada di belakangnya.

Sumber: Sportskeeda


Related posts

Leave a Comment